Berita Terbaru

Hasil Berita

BMKG Ungkap Penyebab Udara NTB Mendadak Lebih Hangat, Suhu Dingin Mulai Berakhir?

narasiNTB, Mataram – Setelah beberapa pekan terakhir warga Nusa Tenggara Barat (NTB) merasakan udara dingin yang cukup menusuk, terutama pada malam hingga dini hari, kini kondisi tersebut mulai berubah. Dalam beberapa hari terakhir, suhu udara di NTB terasa lebih hangat dibandingkan sebelumnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa suhu minimum rata-rata di NTB mengalami kenaikan sekitar 2 derajat Celsius dalam dua hari terakhir.

Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Ari Wibianto, menjelaskan bahwa suhu minimum yang sebelumnya sempat menyentuh 18,5 derajat Celsius, kini meningkat menjadi sekitar 20,5 derajat Celsius.

"Suhu minimum rata-rata dalam dua hari terakhir tercatat sekitar 20,5 derajat Celsius, lebih tinggi dibandingkan suhu minimum terendah yang sempat mencapai 18,5 derajat Celsius pada periode sebelumnya," ujarnya, Selasa (2/6/2026).

Pengaruh Angin Dingin dari Australia Mulai Melemah

BMKG menyebut salah satu penyebab utama berkurangnya udara dingin di NTB adalah melemahnya Angin Monsun Australia.

Angin Monsun Australia merupakan aliran udara yang bergerak dari Benua Australia menuju Asia dan selama ini dikenal membawa massa udara dingin serta kering ke wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk NTB.

Ketika angin tersebut bertiup kuat, udara dingin dari Australia yang sedang memasuki musim dingin akan terasa hingga ke wilayah NTB, terutama pada malam dan pagi hari.

Namun dalam beberapa hari terakhir, kekuatan angin tersebut mulai menurun.

"Kecepatan angin cenderung melemah sehingga pengaruh massa udara dingin dari Australia juga berkurang," jelas Ari. Akibatnya, pasokan udara dingin yang biasanya membuat suhu di NTB turun drastis mulai berkurang dan membuat udara terasa lebih hangat.

Kelembapan Udara Meningkat, Panas Malam Hari Tertahan.

Selain faktor angin, meningkatnya kelembapan udara juga menjadi penyebab suhu malam di NTB terasa tidak sedingin sebelumnya.

BMKG mencatat tingkat kelembapan udara dalam beberapa hari terakhir mengalami peningkatan. Kondisi ini memicu terbentuknya lebih banyak awan di atmosfer.

Keberadaan awan tersebut ternyata berpengaruh terhadap suhu udara malam hari. Awan berfungsi seperti "selimut alami" yang menahan panas dari permukaan bumi agar tidak cepat terlepas ke atmosfer.

Akibatnya, panas yang tersimpan pada siang hari bertahan lebih lama dan membuat udara malam hingga pagi terasa lebih hangat dibandingkan saat langit cerah.

Masih Berpotensi Terjadi Beberapa Hari ke Depan

BMKG memperkirakan kondisi suhu yang relatif hangat ini masih berpotensi berlangsung dalam beberapa hari ke depan.

Selama Angin Monsun Australia belum kembali menguat dan kelembapan udara tetap tinggi, masyarakat diperkirakan akan terus merasakan suhu malam yang lebih hangat dibandingkan akhir Mei lalu.

Sebelumnya, sebagian besar wilayah NTB sempat mengalami suhu udara yang cukup dingin. Bahkan warga di kawasan pesisir yang biasanya terbiasa dengan cuaca hangat mulai mengenakan jaket saat beraktivitas pada malam dan pagi hari.

Kini, meski musim kemarau masih berlangsung, udara dingin yang sempat menjadi perbincangan masyarakat perlahan mulai berkurang dan digantikan suhu yang lebih nyaman pada malam hari.

Comments