Berita Terbaru

Hasil Berita

Rupiah Terpuruk, Harga Emas Justru Turun: Peluang Investasi atau Alarm Ekonomi?

narasiNTB, Jakarta – Di saat nilai tukar rupiah tertekan hingga menembus level terlemah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), harga emas justru bergerak ke arah yang tidak biasa. Dalam sepekan terakhir, harga logam mulia mengalami penurunan, memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: apakah ini kesempatan emas untuk berinvestasi atau justru sinyal kewaspadaan terhadap kondisi ekonomi?

Data menunjukkan harga emas ukuran 1 gram turun dari Rp2.799.000 pada 1 Juni 2026 menjadi Rp2.738.000 pada 6 Juni 2026. Artinya, terjadi koreksi sebesar Rp61.000 per gram hanya dalam waktu satu pekan.

Penurunan juga terjadi pada harga buyback atau jual kembali yang terkoreksi lebih dalam, yakni dari Rp2.609.000 menjadi Rp2.531.000 per gram.

Ironisnya, tren tersebut terjadi ketika rupiah terus melemah hingga menyentuh Rp18.036 per dolar AS, level yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah nilai tukar Indonesia.

Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.

Menurutnya, masyarakat perlu menghindari utang konsumtif dan lebih fokus memperkuat ketahanan finansial keluarga.

"Hindari berutang untuk konsumsi serta membeli barang bernilai besar dengan pinjaman," ujarnya.

Ia menilai pelemahan rupiah berpotensi memicu kenaikan biaya hidup, harga barang yang lebih mahal, cicilan kredit yang meningkat, hingga berkurangnya peluang kerja di sejumlah sektor.

Di sisi lain, Financial Planner Andi Nugroho melihat turunnya harga emas dapat menjadi peluang bagi masyarakat yang ingin mulai mengakumulasi aset investasi.

Namun, ia menegaskan bahwa emas bukan instrumen yang cocok untuk mencari keuntungan instan.

"Investasi emas idealnya untuk jangka menengah hingga panjang, minimal disimpan selama tiga tahun," jelasnya.

Menurut Andi, emas masih menjadi salah satu aset safe haven yang banyak diburu investor saat kondisi ekonomi global diliputi ketidakpastian. Karena itu, peluang harga emas kembali menguat di masa depan masih terbuka.

Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tidak tergesa-gesa membeli emas hanya karena harga sedang turun.

"Prioritas utama tetap menjaga arus kas dan memastikan kebutuhan pokok terpenuhi," katanya.

Fenomena rupiah yang melemah dan emas yang turun secara bersamaan menjadi gambaran bahwa kondisi ekonomi saat ini tidak bisa dibaca secara sederhana. Bagi sebagian orang, koreksi harga emas mungkin menjadi peluang investasi. Namun bagi banyak keluarga, pelemahan rupiah justru menjadi tantangan nyata yang berpotensi menekan daya beli dan stabilitas keuangan rumah tangga.

Di tengah situasi tersebut, satu hal yang menjadi kunci adalah kemampuan masyarakat mengelola keuangan secara lebih bijak, disiplin, dan terukur.

11 Jemaah Haji NTB Wafat di Tanah Suci, Lombok Timur dan Lombok Tengah Terbanyak

narasiNTB, Mataram – Kabar duka menyelimuti penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026. Sebanyak 11 jemaah haji asal Nusa Tenggara Barat (NTB) dilaporkan meninggal dunia di Tanah Suci selama pelaksanaan rangkaian ibadah haji.

Data Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) NTB menunjukkan, Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Tengah menjadi daerah dengan jumlah jemaah wafat terbanyak, masing-masing tiga orang.

Kepala Kanwil Kemenhaj NTB, Lalu Muhamad Amin, mengatakan pihaknya akan melakukan kunjungan takziah kepada keluarga jemaah yang meninggal dunia setelah proses pemulangan seluruh jemaah haji selesai dilaksanakan.

"Kunjungan pertama akan dilakukan ke Kabupaten Lombok Timur, kemudian dilanjutkan ke Kabupaten Lombok Tengah," ujarnya.

Selain enam jemaah dari Pulau Lombok, lima jemaah lainnya yang wafat berasal dari Pulau Sumbawa. Rinciannya, tiga orang berasal dari Kabupaten Bima dan dua orang dari Kabupaten Sumbawa.

Dengan demikian, total 11 jemaah haji asal NTB yang meninggal dunia di Tanah Suci terdiri dari:

• 3 jemaah asal Kabupaten Lombok Timur
• 3 jemaah asal Kabupaten Lombok Tengah
• 3 jemaah asal Kabupaten Bima
• 2 jemaah asal Kabupaten Sumbawa

Lalu Amin menjelaskan, pendampingan terhadap keluarga yang ditinggalkan sebenarnya telah dilakukan oleh kantor Kemenhaj di masing-masing kabupaten sejak kabar duka diterima.

"Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Bima dan Kabupaten Sumbawa sudah melakukan kunjungan langsung kepada keluarga jamaah yang ditinggalkan," katanya.

Di tengah sukacita ribuan jemaah yang mulai bersiap kembali ke tanah air, kabar wafatnya 11 jemaah asal NTB menjadi pengingat bahwa perjalanan haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan pengabdian yang penuh risiko dan pengorbanan.

Kemenhaj NTB memastikan akan terus memberikan pendampingan kepada keluarga almarhum sekaligus menyelesaikan proses pemulangan jemaah haji yang masih berada di Arab Saudi.

Bukit Sempana Terbakar, Puluhan Wisatawan Dievakuasi Saat Api Mendekat ke Area Camping

narasiNTB, Lombok Timur – Kebakaran kembali mengancam kawasan wisata alam di kaki Gunung Rinjani. Kali ini, kobaran api melanda Bukit Sempana, Desa Sembalun Bumbung, Kabupaten Lombok Timur, Selasa (9/6/2026), hingga memaksa petugas mengevakuasi puluhan wisatawan yang sedang berkemah.

Api yang terus membesar menjelang malam membuat aktivitas pendakian dihentikan sementara. Petugas gabungan pun bergerak cepat untuk menghindari kemungkinan terjadinya korban jiwa.

"Kebakaran dilaporkan terjadi pada sore hari dan titik api terus membesar menjelang malam," kata Kepala Seksi Pengamanan Rinjani Timur, Lalu Iskandar.

Situasi menjadi semakin mengkhawatirkan karena lokasi kebakaran berada tidak jauh dari area camping favorit para pendaki. Berdasarkan informasi dari pihak kepolisian, jarak titik api dengan lokasi perkemahan hanya sekitar 500 meter.

"Lokasi kebakaran hutan dan lahan tersebut kurang lebih berjarak 500 meter dari lokasi camping yang sering dikunjungi pendaki," ujar Kapolsek Sembalun, Iptu Lalu Subadri.

Sebanyak 25 wisatawan yang berada di atas bukit langsung dievakuasi menuju Pos 1 untuk menghindari risiko terjebak kobaran api maupun paparan asap.

"Petugas sedang melakukan evakuasi terhadap para pengunjung Bukit Sempana sebanyak 25 orang menuju Pos 1 agar aman dan tidak terkena dampak kebakaran," jelasnya.

Hingga malam hari, petugas belum dapat memastikan penyebab kebakaran maupun luas area yang terdampak. Medan yang gelap dan kondisi lokasi yang cukup berisiko membuat upaya pemadaman secara menyeluruh belum bisa dilakukan.

Fokus utama petugas saat ini adalah memastikan seluruh wisatawan dalam kondisi aman sebelum penanganan kebakaran dilanjutkan pada pagi hari.

"Kami belum sampai di titik api, jadi belum bisa memastikan sumber kebakaran maupun luas area yang terbakar. Fokus malam ini adalah mengamankan seluruh pengunjung yang berada di atas bukit," kata Iskandar.

Peristiwa ini kembali menjadi alarm bagi kawasan wisata pegunungan di NTB yang setiap musim kemarau menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Belum lama ini, savana di kawasan Gunung Rinjani juga sempat dilanda kebakaran yang menghanguskan puluhan hektare lahan.

Kini, publik menunggu jawaban atas satu pertanyaan penting: apakah kebakaran Bukit Sempana murni akibat faktor alam, atau kembali dipicu kelalaian manusia yang terus berulang setiap musim kemarau? (*)

Tidak Bayar Sewa, Bupati Lombok Barat Ancam Ambil Alih Lahan STIE AMM

narasiNTB, Lombok Barat – Konflik panjang antara Pemerintah Kabupaten Lombok Barat dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Akademi Manajemen Mataram (AMM) kembali memanas. Kali ini, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini (LAZ) secara terbuka mengancam akan mengambil alih lahan milik pemerintah daerah yang selama puluhan tahun dimanfaatkan oleh kampus tersebut.

Pernyataan tegas itu muncul setelah Pemkab Lombok Barat menilai pihak STIE AMM belum memenuhi kewajiban pembayaran sewa atas lahan seluas sekitar 17.000 meter persegi yang kini menjadi objek sengketa.

“Tidak ada kompromi. Kalau tidak bayar, ya saya ambil aset kami,” tegas LAZ.

Menurutnya, nilai sewa lahan harus mengacu pada hasil appraisal terbaru yang mencapai sekitar Rp241,9 juta per tahun. Namun, pihak kampus disebut hanya menawarkan pembayaran sebesar Rp25 juta per tahun.

“Saya sudah tidak ada tawar-menawar. Nilai appraisal itu harus dibayar,” katanya.

Di sisi lain, pihak STIE AMM belum memberikan tanggapan resmi terkait ultimatum tersebut. Pihak humas kampus menyatakan masih melakukan koordinasi internal sebelum menyampaikan sikap resmi kepada publik.

Perselisihan ini sejatinya bukan perkara baru. Lahan tersebut diketahui diberikan kepada Yayasan Pendidikan Tri Dharma Kosgoro NTB pada tahun 1986 dengan status pinjam pakai. Namun, seiring berjalannya waktu, Pemkab Lombok Barat menilai tidak ada dasar hukum yang membenarkan penggunaan aset daerah tanpa batas waktu serta tidak adanya kontribusi yang diberikan kepada pemerintah daerah.

Situasi kemudian berkembang menjadi sengketa hukum yang berlangsung bertahun-tahun. Bahkan, perkara tersebut sempat bergulir hingga tingkat kasasi dan dimenangkan oleh pihak STIE AMM di Mahkamah Agung.

Meski demikian, Pemkab Lombok Barat kembali menerbitkan kebijakan baru pada tahun 2025 yang mengubah status pemanfaatan lahan dari hak pakai menjadi hak sewa. Kebijakan ini kembali digugat oleh STIE AMM ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Mataram.

Tak hanya itu, Pemkab Lombok Barat juga melaporkan dugaan penyalahgunaan aset dan indikasi tindak pidana korupsi terkait penggunaan lahan tersebut ke Kejaksaan Tinggi NTB.

Kini, dua proses hukum berjalan bersamaan. Di satu sisi sengketa administrasi masih bergulir di PTUN, sementara di sisi lain laporan dugaan penyalahgunaan aset tengah ditangani aparat penegak hukum.

Di tengah tarik-ulur kepentingan tersebut, publik pun menunggu satu pertanyaan besar: siapa yang sebenarnya paling berhak atas aset daerah bernilai strategis ini, dan sampai kapan konflik yang telah berlangsung puluhan tahun ini akan berakhir? (*)

BMKG Ungkap Penyebab Udara NTB Mendadak Lebih Hangat, Suhu Dingin Mulai Berakhir?

narasiNTB, Mataram – Setelah beberapa pekan terakhir warga Nusa Tenggara Barat (NTB) merasakan udara dingin yang cukup menusuk, terutama pada malam hingga dini hari, kini kondisi tersebut mulai berubah. Dalam beberapa hari terakhir, suhu udara di NTB terasa lebih hangat dibandingkan sebelumnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa suhu minimum rata-rata di NTB mengalami kenaikan sekitar 2 derajat Celsius dalam dua hari terakhir.

Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Ari Wibianto, menjelaskan bahwa suhu minimum yang sebelumnya sempat menyentuh 18,5 derajat Celsius, kini meningkat menjadi sekitar 20,5 derajat Celsius.

"Suhu minimum rata-rata dalam dua hari terakhir tercatat sekitar 20,5 derajat Celsius, lebih tinggi dibandingkan suhu minimum terendah yang sempat mencapai 18,5 derajat Celsius pada periode sebelumnya," ujarnya, Selasa (2/6/2026).

Pengaruh Angin Dingin dari Australia Mulai Melemah

BMKG menyebut salah satu penyebab utama berkurangnya udara dingin di NTB adalah melemahnya Angin Monsun Australia.

Angin Monsun Australia merupakan aliran udara yang bergerak dari Benua Australia menuju Asia dan selama ini dikenal membawa massa udara dingin serta kering ke wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk NTB.

Ketika angin tersebut bertiup kuat, udara dingin dari Australia yang sedang memasuki musim dingin akan terasa hingga ke wilayah NTB, terutama pada malam dan pagi hari.

Namun dalam beberapa hari terakhir, kekuatan angin tersebut mulai menurun.

"Kecepatan angin cenderung melemah sehingga pengaruh massa udara dingin dari Australia juga berkurang," jelas Ari. Akibatnya, pasokan udara dingin yang biasanya membuat suhu di NTB turun drastis mulai berkurang dan membuat udara terasa lebih hangat.

Kelembapan Udara Meningkat, Panas Malam Hari Tertahan.

Selain faktor angin, meningkatnya kelembapan udara juga menjadi penyebab suhu malam di NTB terasa tidak sedingin sebelumnya.

BMKG mencatat tingkat kelembapan udara dalam beberapa hari terakhir mengalami peningkatan. Kondisi ini memicu terbentuknya lebih banyak awan di atmosfer.

Keberadaan awan tersebut ternyata berpengaruh terhadap suhu udara malam hari. Awan berfungsi seperti "selimut alami" yang menahan panas dari permukaan bumi agar tidak cepat terlepas ke atmosfer.

Akibatnya, panas yang tersimpan pada siang hari bertahan lebih lama dan membuat udara malam hingga pagi terasa lebih hangat dibandingkan saat langit cerah.

Masih Berpotensi Terjadi Beberapa Hari ke Depan

BMKG memperkirakan kondisi suhu yang relatif hangat ini masih berpotensi berlangsung dalam beberapa hari ke depan.

Selama Angin Monsun Australia belum kembali menguat dan kelembapan udara tetap tinggi, masyarakat diperkirakan akan terus merasakan suhu malam yang lebih hangat dibandingkan akhir Mei lalu.

Sebelumnya, sebagian besar wilayah NTB sempat mengalami suhu udara yang cukup dingin. Bahkan warga di kawasan pesisir yang biasanya terbiasa dengan cuaca hangat mulai mengenakan jaket saat beraktivitas pada malam dan pagi hari.

Kini, meski musim kemarau masih berlangsung, udara dingin yang sempat menjadi perbincangan masyarakat perlahan mulai berkurang dan digantikan suhu yang lebih nyaman pada malam hari.

195 Dapur MBG di NTB Berhenti Beroperasi, Ratusan Ribu Penerima Manfaat Terdampak

narasiNTB, Mataram, NTB – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah menghadapi ujian serius. Sebanyak 195 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG dilaporkan berhenti beroperasi sementara akibat belum cairnya dana operasional dari Badan Gizi Nasional (BGN).

Akibat kondisi tersebut, ratusan ribu penerima manfaat di berbagai daerah terpaksa tidak menerima distribusi makanan bergizi sebagaimana biasanya dalam beberapa hari terakhir.

Kepala BGN Regional NTB, Eko Prasetyo, membenarkan adanya penghentian sementara operasional ratusan dapur MBG tersebut. Menurutnya, kendala yang terjadi murni disebabkan persoalan teknis pencairan anggaran dari pemerintah pusat.

"Memang tidak operasionalnya karena menunggu pencairan dana. Hari ini ada pencairan lagi dan akan terus berproses. Kami optimalkan agar segera berjalan kembali," ujarnya, Senin (8/6/2026).


Eko menjelaskan proses pencairan dana dilakukan secara bertahap berdasarkan data SPPG yang ditarik dari sistem. Namun hingga awal pekan ini, masih banyak dapur yang belum menerima transfer dana sehingga tidak dapat melakukan produksi makanan.

Meski demikian, ia menegaskan kondisi tersebut tidak berkaitan dengan pergantian pimpinan di BGN yang terjadi beberapa waktu lalu.

"Ini murni kendala teknis pencairan. Tidak ada hubungan dengan pergantian pimpinan BGN," tegasnya.

Lebih lanjut, Eko mengungkapkan bahwa pihak pengelola dapur tidak diperkenankan menggunakan dana talangan maupun mencari pinjaman untuk menutupi kebutuhan operasional selama dana belum cair.

"Tidak boleh ditalangi atau menggunakan pembayaran tempo. Itu tidak diperkenankan," katanya.

Seluruh data dapur yang belum menerima pencairan dana, lanjut Eko, telah dilaporkan ke pusat untuk segera ditindaklanjuti.

Dugaan Jual Beli Titik SPPG Masih Menjadi Sorotan

Di tengah persoalan operasional tersebut, publik juga masih menyoroti dugaan praktik jual beli titik pendirian SPPG yang mencuat setelah eks Kepala BGN ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi.

Ketua Satgas MBG NTB, Fathul Gani, memastikan hingga saat ini belum ada bukti yang menunjukkan praktik tersebut terjadi di NTB.

"Adanya dugaan penjualan titik SPPG ini masih perlu dibuktikan. Kita tunggu proses hukum yang sedang berjalan," ujarnya.

Menurutnya, penanganan kasus yang kini tengah dilakukan aparat penegak hukum diharapkan dapat membuka secara terang berbagai dugaan penyimpangan yang selama ini menjadi perhatian publik.

Lombok Timur dan Lombok Tengah Terdampak Terbesar

Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 195 dapur MBG yang berhenti beroperasi tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di NTB dengan rincian:

1. Lombok Timur : 44 dapur
2. Lombok Tengah : 42 dapur
3. Kabupaten Bima : 40 dapur
4. Lombok Barat : 30 dapur
5. Lombok Utara : 14 dapur
6. Kota Mataram : 8 dapur
7. Kota Bima : 6 dapur
8. Sumbawa Barat : 5 dapur
9. Dompu : 4 dapur
10. Sumbawa : 2 dapur


Terhentinya hampir dua ratus dapur MBG ini menjadi perhatian serius mengingat program tersebut merupakan salah satu program prioritas nasional yang menyasar pemenuhan gizi anak-anak dan kelompok rentan.

Kini publik menunggu langkah cepat pemerintah pusat untuk memastikan distribusi anggaran kembali normal, sehingga layanan makan bergizi dapat kembali dinikmati oleh para penerima manfaat di seluruh NTB.


Heboh Isu Pocong Bersenjata di Lombok Timur, Polisi Pastikan Hoaks

narasiNTB, LOMBOK TIMUR – Isu mengenai aksi kejahatan yang dilakukan oleh sosok berkostum pocong tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Keresahan warga dipicu oleh beredarnya poster dan video pendek di berbagai media sosial yang mengklaim adanya kemunculan "pocong jadi-jadian" di wilayah Kecamatan Suela dan sejumlah kecamatan lainnya di Lombok Timur.

Poster yang viral tersebut menampilkan sosok menyerupai pocong yang membawa sebilah celurit. Narasi yang menyertainya menyebutkan bahwa sosok tersebut berkeliaran pada malam hari, mengetuk pintu rumah warga secara acak sambil membawa senjata untuk meneror masyarakat.

Akibat informasi tersebut, pada Rabu malam (3/6/2026), warga di Desa Suela sempat mengamankan empat orang yang diduga terlibat dalam aksi pocong-pocongan. Isu serupa juga sempat beredar di Dusun Tejong, Desa Ketangga, pada Jumat malam (5/6/2026).

Namun, pihak kepolisian memastikan informasi tersebut tidak benar.

Kapolsek Suela, I Gusti Bagus Ngurah Rai, menjelaskan bahwa tidak ada aksi teror pocong seperti yang ramai diberitakan.

"Tidak ada pocong-pocongan itu. Anak-anak dari salah satu desa malam Rabu itu hanya mau tes nyali, tetapi diamankan oleh anggota yang berjaga. Mereka sudah dipulangkan pada Kamis pagi dari kantor Polsek," ujarnya, Sabtu (6/6/2026).


Ia juga menegaskan bahwa polisi telah menindaklanjuti penyebaran video yang memicu keresahan masyarakat.

"Berita hoaks tentang kemunculan pocong sering dibuat untuk memancing rasa takut, viral, dan klik. Yang menyebarkan video itu akan kami datangi," tegasnya.


Polisi mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, serta segera melaporkan kepada aparat apabila menemukan aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar.

Menurutnya, penyebaran hoaks semacam ini dapat menimbulkan keresahan, kepanikan, mengganggu aktivitas masyarakat, hingga berpotensi memicu tindakan main hakim sendiri. Oleh karena itu, warga diminta lebih bijak dalam menerima dan membagikan informasi di media sosial.

Hotman Paris Soroti Kasus Radiet Adiansyah: “Logikanya Di Mana?” Desak Kompolnas dan Komisi Kejaksaan Turun Tangan

narasiNTB, Mataram – Kasus kematian seorang perempuan di kawasan Pantai Nipah yang menyeret nama Radiet Adiansyah kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, perhatian datang dari pengacara kondang, Hotman Paris Hutapea, yang secara terbuka mempertanyakan konstruksi perkara yang membuat Radiet harus mendekam di balik jeruji besi selama berbulan-bulan.

Melalui akun media sosialnya, Hotman menilai terdapat sejumlah kejanggalan yang tidak boleh diabaikan begitu saja oleh aparat penegak hukum. Ia bahkan menyebut logika dasar dan hasil visum forensik seharusnya menjadi perhatian serius dalam mengungkap kebenaran kasus tersebut.

Menurut Hotman, salah satu hal yang sulit diterima akal sehat adalah banyaknya luka yang ditemukan pada tubuh korban maupun tersangka.

"Coba pakai logika. Mungkin tidak seorang perempuan yang sudah mengalami puluhan luka masih mampu melukai laki-laki hingga puluhan kali juga?" ujar Hotman dalam video yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya.

Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Hotman mengaku memperoleh informasi bahwa dokter forensik menemukan pola luka yang memiliki karakteristik serupa pada tubuh korban dan Radiet.

Bagi Hotman, temuan tersebut justru membuka ruang pertanyaan baru yang hingga kini belum terjawab secara terang.

"Kalau pola lukanya sama, berarti ada kemungkinan pihak lain yang melakukan. Ini yang harus didalami," tegasnya.

Sorotan dari salah satu pengacara paling dikenal di Indonesia itu semakin memperkuat perhatian publik terhadap kasus yang sejak awal memang memunculkan banyak tanda tanya.

Terlebih, menurut Hotman, Radiet telah ditahan dalam waktu yang cukup lama sementara publik belum melihat adanya saksi fakta yang secara langsung menguatkan tuduhan pembunuhan sebagaimana yang didakwakan.

Karena itu, Hotman mendesak agar Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) dan Komisi Kejaksaan ikut melakukan pengawasan terhadap proses hukum yang sedang berjalan.

Baginya, pencarian kebenaran tidak boleh berhenti pada satu versi cerita semata. Setiap fakta, sekecil apa pun, harus diuji secara objektif agar tidak terjadi kesalahan dalam penegakan hukum.

Dalam pernyataannya, Hotman juga mengingatkan bahwa hukum seharusnya menjadi alat mencari keadilan, bukan sekadar alat menghukum.

Ia meminta aparat penegak hukum untuk benar-benar berhati-hati sebelum menetapkan seseorang sebagai pelaku tindak pidana berat.

"Coba bayangkan kalau itu anak atau keluarga kita sendiri. Hukum harus memberikan keadilan, bukan hanya kepastian," ujarnya.

Hingga saat ini, proses hukum terhadap Radiet Adiansyah masih terus berjalan. Sementara itu, pernyataan Hotman Paris telah memunculkan gelombang diskusi baru di tengah masyarakat yang kini semakin menaruh perhatian pada bagaimana kasus ini akan diungkap di ruang persidangan.

Publik pun kini menunggu satu hal yang paling penting: apakah seluruh fakta dalam kasus ini sudah benar-benar terungkap, atau masih ada potongan puzzle yang belum tersusun dengan lengkap?

Aksi PPS Memanas, Massa Mulai Blokade Jalur Poto Tano: "Perjuangan Belum Berakhir, Pelabuhan Bisa Lumpuh Total"

SUMBAWA BARAT, NTB – Gelombang perjuangan pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa (PPS) mulai memasuki fase yang lebih serius. Setelah melakukan konsolidasi sejak pagi, massa aksi pada Selasa (2/6/2026) mulai memblokade akses jalan menuju Pelabuhan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat.

Pantauan di lapangan menunjukkan aktivitas menuju kawasan pelabuhan mulai terganggu. Sejumlah titik akses menuju pelabuhan dijaga ketat oleh massa aksi. Arus kendaraan yang biasanya ramai terlihat jauh berkurang, sementara suasana di sekitar jalur penyeberangan tampak berbeda dari hari-hari biasa.

Meski beberapa kapal masih terlihat beroperasi, massa aksi menegaskan bahwa kendaraan yang diseberangkan hanyalah sisa antrean yang sudah berada di dalam kawasan pelabuhan sebelum aksi berlangsung.

Pimpinan aksi menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak bisa dijadikan indikator bahwa operasional Pelabuhan Poto Tano berjalan normal.

"Yang diseberangkan itu kendaraan yang sudah lebih dulu masuk dan mengantre sejak pagi. Jangan sampai publik menganggap aktivitas pelabuhan normal. Aksi ini masih berjalan dan eskalasinya terus meningkat," tegas salah satu pimpinan aksi di lokasi.

Menurutnya, blokade yang dilakukan merupakan bentuk tekanan kepada pemerintah pusat agar segera memberikan kepastian terkait pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa yang telah diperjuangkan masyarakat selama puluhan tahun.

Massa menilai, berbagai persoalan pembangunan, pemerataan layanan publik, hingga ketimpangan distribusi anggaran di Pulau Sumbawa membutuhkan solusi yang lebih konkret melalui pembentukan daerah otonomi baru.

"Aspirasi ini bukan lahir kemarin sore. Ini perjuangan panjang yang sudah diwariskan lintas generasi. Kami ingin pemerintah mendengar dengan serius, bukan sekadar memberi janji," ujarnya.

Hingga siang hari, ratusan massa masih bertahan di sejumlah titik strategis sekitar kawasan pelabuhan. Aparat keamanan juga tampak berjaga untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan memastikan situasi tetap kondusif.

Sementara itu, dampak aksi mulai dirasakan oleh pengguna jasa penyeberangan. Sejumlah kendaraan memilih berhenti di luar kawasan pelabuhan sambil menunggu perkembangan situasi.

Aksi ini menjadi sinyal bahwa kesabaran masyarakat Pulau Sumbawa terhadap nasib PPS mulai mencapai titik kritis. Jika belum ada respons yang jelas dari pemerintah pusat, bukan tidak mungkin gelombang aksi akan meluas ke berbagai titik strategis lainnya di Pulau Sumbawa.

Tragedi di Balik Tembok Pesantren Lombok: Tiga Santri Diduga Dibakar Sesama Teman, Satu Meninggal Dunia

narasiNTB, Lombok Tengah, NTB – Sebuah dugaan kasus kekerasan ekstrem di lingkungan pondok pesantren menggemparkan masyarakat Nusa Tenggara Barat. Tiga santri di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, diduga menjadi korban pembakaran yang dilakukan oleh sesama santri. Tragisnya, satu korban dilaporkan meninggal dunia, sementara dua lainnya mengalami luka bakar serius.

Kasus ini kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah video yang memperlihatkan kondisi salah satu korban beredar luas di media sosial dan memicu gelombang keprihatinan masyarakat.
Dalam video yang diunggah melalui akun Facebook bernama Tiara Erna BenKinara Cahya, tampak seorang anak menangis menahan rasa sakit sambil menunjukkan luka bakar di sejumlah bagian tubuhnya yang telah dibalut perban saat menjalani perawatan di rumah sakit. Suara keluarga yang berusaha menenangkan korban juga terdengar dalam rekaman tersebut.

Unggahan itu dengan cepat menarik perhatian publik. Hingga kini, video tersebut telah ditonton puluhan ribu kali, dibagikan ratusan kali, dan memunculkan berbagai pertanyaan terkait peristiwa yang sebenarnya terjadi di lingkungan pendidikan berbasis keagamaan tersebut.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, Joko Jumadi, membenarkan adanya dugaan kasus tersebut. Menurutnya, peristiwa itu sebenarnya terjadi pada November 2025, namun baru mencuat ke publik setelah video korban beredar luas beberapa hari terakhir.

“Berdasarkan informasi awal yang kami terima, ada tiga korban. Dua mengalami luka bakar cukup serius dan satu korban meninggal dunia,” ujarnya, Rabu (3/6/2026).

Joko menjelaskan bahwa para korban diduga disiram menggunakan bahan bakar sebelum kemudian dibakar oleh sesama santri. Namun hingga saat ini, pihaknya masih melakukan penelusuran mendalam untuk memastikan kronologi lengkap serta latar belakang peristiwa tersebut.

“Tadi ramai di media sosial terkait adanya anak yang diduga dibakar oleh temannya sesama santri. Karena itu kami langsung  penelusuran,” katanya.

Menurutnya, kasus ini tidak bisa dipandang sebagai kenakalan remaja biasa. Jika dugaan tersebut terbukti benar, maka peristiwa ini masuk kategori kekerasan berat terhadap anak yang harus ditangani secara serius oleh aparat penegak hukum maupun lembaga perlindungan anak.

LPA Kota Mataram saat ini masih mengumpulkan berbagai informasi terkait identitas korban, kondisi korban yang selamat, serta kemungkinan adanya faktor-faktor lain yang melatarbelakangi kejadian tersebut.

Sementara itu, Polres Lombok Tengah mulai bergerak melakukan penyelidikan. Kasatreskrim Polres Lombok Tengah AKP Punguan Hutahaean mengatakan laporan resmi dari orang tua korban baru diterima pada Senin (2/6/2026).

Setelah menerima laporan tersebut, penyidik langsung melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dan mengumpulkan berbagai keterangan yang diperlukan untuk mengungkap peristiwa tersebut.
“Mulai hari ini kami melakukan pemeriksaan saksi dan tindakan penyelidikan lainnya,” ujarnya.

Kasus ini menimbulkan perhatian luas karena terjadi di lingkungan yang seharusnya menjadi tempat pembinaan karakter, pendidikan moral, dan perlindungan bagi anak-anak. Masyarakat kini menunggu hasil penyelidikan aparat untuk mengungkap secara terang apa yang sebenarnya terjadi, siapa yang bertanggung jawab, serta apakah terdapat unsur kelalaian dalam pengawasan di lingkungan pondok pesantren tersebut.

Jika terbukti benar, kasus ini menjadi salah satu dugaan kekerasan paling serius yang melibatkan anak di NTB dalam beberapa tahun terakhir.