Berita Terbaru

Hasil Berita

11 Jemaah Haji NTB Wafat di Tanah Suci, Lombok Timur dan Lombok Tengah Terbanyak

narasiNTB, Mataram – Kabar duka menyelimuti penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026. Sebanyak 11 jemaah haji asal Nusa Tenggara Barat (NTB) dilaporkan meninggal dunia di Tanah Suci selama pelaksanaan rangkaian ibadah haji.

Data Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) NTB menunjukkan, Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Tengah menjadi daerah dengan jumlah jemaah wafat terbanyak, masing-masing tiga orang.

Kepala Kanwil Kemenhaj NTB, Lalu Muhamad Amin, mengatakan pihaknya akan melakukan kunjungan takziah kepada keluarga jemaah yang meninggal dunia setelah proses pemulangan seluruh jemaah haji selesai dilaksanakan.

"Kunjungan pertama akan dilakukan ke Kabupaten Lombok Timur, kemudian dilanjutkan ke Kabupaten Lombok Tengah," ujarnya.

Selain enam jemaah dari Pulau Lombok, lima jemaah lainnya yang wafat berasal dari Pulau Sumbawa. Rinciannya, tiga orang berasal dari Kabupaten Bima dan dua orang dari Kabupaten Sumbawa.

Dengan demikian, total 11 jemaah haji asal NTB yang meninggal dunia di Tanah Suci terdiri dari:

• 3 jemaah asal Kabupaten Lombok Timur
• 3 jemaah asal Kabupaten Lombok Tengah
• 3 jemaah asal Kabupaten Bima
• 2 jemaah asal Kabupaten Sumbawa

Lalu Amin menjelaskan, pendampingan terhadap keluarga yang ditinggalkan sebenarnya telah dilakukan oleh kantor Kemenhaj di masing-masing kabupaten sejak kabar duka diterima.

"Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Bima dan Kabupaten Sumbawa sudah melakukan kunjungan langsung kepada keluarga jamaah yang ditinggalkan," katanya.

Di tengah sukacita ribuan jemaah yang mulai bersiap kembali ke tanah air, kabar wafatnya 11 jemaah asal NTB menjadi pengingat bahwa perjalanan haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan pengabdian yang penuh risiko dan pengorbanan.

Kemenhaj NTB memastikan akan terus memberikan pendampingan kepada keluarga almarhum sekaligus menyelesaikan proses pemulangan jemaah haji yang masih berada di Arab Saudi.

Bukit Sempana Terbakar, Puluhan Wisatawan Dievakuasi Saat Api Mendekat ke Area Camping

narasiNTB, Lombok Timur – Kebakaran kembali mengancam kawasan wisata alam di kaki Gunung Rinjani. Kali ini, kobaran api melanda Bukit Sempana, Desa Sembalun Bumbung, Kabupaten Lombok Timur, Selasa (9/6/2026), hingga memaksa petugas mengevakuasi puluhan wisatawan yang sedang berkemah.

Api yang terus membesar menjelang malam membuat aktivitas pendakian dihentikan sementara. Petugas gabungan pun bergerak cepat untuk menghindari kemungkinan terjadinya korban jiwa.

"Kebakaran dilaporkan terjadi pada sore hari dan titik api terus membesar menjelang malam," kata Kepala Seksi Pengamanan Rinjani Timur, Lalu Iskandar.

Situasi menjadi semakin mengkhawatirkan karena lokasi kebakaran berada tidak jauh dari area camping favorit para pendaki. Berdasarkan informasi dari pihak kepolisian, jarak titik api dengan lokasi perkemahan hanya sekitar 500 meter.

"Lokasi kebakaran hutan dan lahan tersebut kurang lebih berjarak 500 meter dari lokasi camping yang sering dikunjungi pendaki," ujar Kapolsek Sembalun, Iptu Lalu Subadri.

Sebanyak 25 wisatawan yang berada di atas bukit langsung dievakuasi menuju Pos 1 untuk menghindari risiko terjebak kobaran api maupun paparan asap.

"Petugas sedang melakukan evakuasi terhadap para pengunjung Bukit Sempana sebanyak 25 orang menuju Pos 1 agar aman dan tidak terkena dampak kebakaran," jelasnya.

Hingga malam hari, petugas belum dapat memastikan penyebab kebakaran maupun luas area yang terdampak. Medan yang gelap dan kondisi lokasi yang cukup berisiko membuat upaya pemadaman secara menyeluruh belum bisa dilakukan.

Fokus utama petugas saat ini adalah memastikan seluruh wisatawan dalam kondisi aman sebelum penanganan kebakaran dilanjutkan pada pagi hari.

"Kami belum sampai di titik api, jadi belum bisa memastikan sumber kebakaran maupun luas area yang terbakar. Fokus malam ini adalah mengamankan seluruh pengunjung yang berada di atas bukit," kata Iskandar.

Peristiwa ini kembali menjadi alarm bagi kawasan wisata pegunungan di NTB yang setiap musim kemarau menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Belum lama ini, savana di kawasan Gunung Rinjani juga sempat dilanda kebakaran yang menghanguskan puluhan hektare lahan.

Kini, publik menunggu jawaban atas satu pertanyaan penting: apakah kebakaran Bukit Sempana murni akibat faktor alam, atau kembali dipicu kelalaian manusia yang terus berulang setiap musim kemarau? (*)

Heboh Isu Pocong Bersenjata di Lombok Timur, Polisi Pastikan Hoaks

narasiNTB, LOMBOK TIMUR – Isu mengenai aksi kejahatan yang dilakukan oleh sosok berkostum pocong tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Keresahan warga dipicu oleh beredarnya poster dan video pendek di berbagai media sosial yang mengklaim adanya kemunculan "pocong jadi-jadian" di wilayah Kecamatan Suela dan sejumlah kecamatan lainnya di Lombok Timur.

Poster yang viral tersebut menampilkan sosok menyerupai pocong yang membawa sebilah celurit. Narasi yang menyertainya menyebutkan bahwa sosok tersebut berkeliaran pada malam hari, mengetuk pintu rumah warga secara acak sambil membawa senjata untuk meneror masyarakat.

Akibat informasi tersebut, pada Rabu malam (3/6/2026), warga di Desa Suela sempat mengamankan empat orang yang diduga terlibat dalam aksi pocong-pocongan. Isu serupa juga sempat beredar di Dusun Tejong, Desa Ketangga, pada Jumat malam (5/6/2026).

Namun, pihak kepolisian memastikan informasi tersebut tidak benar.

Kapolsek Suela, I Gusti Bagus Ngurah Rai, menjelaskan bahwa tidak ada aksi teror pocong seperti yang ramai diberitakan.

"Tidak ada pocong-pocongan itu. Anak-anak dari salah satu desa malam Rabu itu hanya mau tes nyali, tetapi diamankan oleh anggota yang berjaga. Mereka sudah dipulangkan pada Kamis pagi dari kantor Polsek," ujarnya, Sabtu (6/6/2026).


Ia juga menegaskan bahwa polisi telah menindaklanjuti penyebaran video yang memicu keresahan masyarakat.

"Berita hoaks tentang kemunculan pocong sering dibuat untuk memancing rasa takut, viral, dan klik. Yang menyebarkan video itu akan kami datangi," tegasnya.


Polisi mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, serta segera melaporkan kepada aparat apabila menemukan aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar.

Menurutnya, penyebaran hoaks semacam ini dapat menimbulkan keresahan, kepanikan, mengganggu aktivitas masyarakat, hingga berpotensi memicu tindakan main hakim sendiri. Oleh karena itu, warga diminta lebih bijak dalam menerima dan membagikan informasi di media sosial.