Berita Terbaru

Hasil Berita

Lawan Kanker dengan Terapi Ciptaannya Sendiri, Ilmuwan Dunia Richard Scolyer Meninggal Dunia

narasiNTB, JAKARTA – Dunia kedokteran kembali berduka. Profesor Richard Scolyer, ilmuwan kanker asal Australia yang dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam penelitian melanoma, meninggal dunia pada usia 59 tahun setelah hampir tiga tahun berjuang melawan glioblastoma, salah satu kanker otak paling mematikan di dunia.

Namun, kepergiannya meninggalkan warisan yang jauh lebih besar dari sekadar deretan publikasi ilmiah. Di tengah vonis penyakit yang hampir mustahil disembuhkan, Scolyer memilih jalan yang tidak biasa. Ia menjadikan dirinya sendiri sebagai pasien pertama dalam terapi eksperimental yang berpotensi mengubah masa depan pengobatan kanker otak.

Kisahnya bermula pada 2023 ketika ia didiagnosis mengidap glioblastoma tipe IDH wild-type, jenis kanker otak agresif dengan rata-rata harapan hidup sekitar 12 bulan. Alih-alih hanya menjalani pengobatan standar, Scolyer memutuskan menerapkan pendekatan yang selama ini ia kembangkan dalam penelitian kanker kulit melanoma.

Bersama tim peneliti, ia menjalani kombinasi imunoterapi sebelum operasi pengangkatan tumor, metode yang saat itu belum pernah diterapkan pada pasien kanker otak. Selain itu, ia juga menerima vaksin kanker yang dirancang khusus berdasarkan karakteristik tumornya sendiri.

"Kanker ini tidak dapat disembuhkan? Saya tidak mau begitu saja menerimanya," ujar Scolyer dalam salah satu wawancara yang kini menjadi pengingat keberaniannya menghadapi penyakit tersebut.

Keputusan itu menjadikan dirinya sebagai "patient zero" atau pasien pertama dalam pendekatan medis yang kemudian menarik perhatian komunitas kesehatan dunia.

Meski tidak berhasil mengalahkan penyakitnya, terapi yang dijalani Scolyer menunjukkan hasil yang mengejutkan. Ia mampu bertahan hidup hampir tiga tahun setelah diagnosis, jauh melampaui rata-rata harapan hidup pasien glioblastoma.

Temuan dari terapi tersebut kemudian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional dan kini menjadi dasar berbagai uji klinis yang sedang berlangsung di Amerika Serikat. Harapannya, metode yang pertama kali diterapkan pada tubuh Scolyer dapat membuka peluang baru bagi ribuan pasien kanker otak di masa depan.

Sebelum didiagnosis kanker otak, nama Richard Scolyer sudah dikenal luas sebagai pelopor pengobatan melanoma. Bersama Profesor Georgina Long, ia berperan besar dalam pengembangan imunoterapi yang secara signifikan meningkatkan angka harapan hidup pasien melanoma stadium lanjut.

Atas kontribusinya tersebut, keduanya dianugerahi penghargaan Australian of the Year 2024, salah satu penghargaan sipil tertinggi di Australia.

Di tengah perjuangannya melawan kanker, Scolyer tetap aktif berbagi pengalaman kepada publik. Dalam surat terbuka yang dipublikasikan setelah kepergiannya, ia menyampaikan pesan yang kini menjadi warisan moral bagi dunia medis.

"Saya ingin terus berkontribusi, bahkan pada saat-saat tergelap dalam hidup saya," tulisnya.

Ia juga mengajak para ilmuwan untuk terus berani mencari terobosan baru dan tidak takut menembus batas-batas pengetahuan yang ada.

Keberanian Richard Scolyer mungkin tidak berhasil menyelamatkan dirinya sendiri. Namun, langkah yang diambilnya berpotensi menjadi titik terang bagi generasi pasien kanker otak berikutnya.

Pada akhirnya, warisan terbesar yang ia tinggalkan bukan hanya penelitian atau terapi baru, melainkan keberanian untuk mempertaruhkan hidupnya demi harapan hidup orang lain.

Vape Rasa Buah Tak Seaman yang Dibayangkan? Studi Temukan Perubahan pada Ribuan Gen

narasiNTB, JAKARTA – Vape rasa buah yang selama ini populer di kalangan anak muda kembali menjadi sorotan. Sebuah penelitian terbaru mengungkap temuan yang mengundang perhatian dunia kesehatan, yakni adanya perubahan aktivitas ribuan gen pada pengguna rokok elektronik, terutama mereka yang menggunakan vape berperisa buah.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Frontiers in Oncology menemukan bahwa pengguna vape mengalami perubahan aktivitas pada 3.124 gen dibandingkan kelompok yang tidak merokok maupun tidak menggunakan vape. Temuan ini menjadi perhatian karena sejumlah perubahan gen tersebut diketahui berkaitan dengan berbagai jalur biologis yang berhubungan dengan penyakit kronis.

Penelitian yang dilakukan tim dari Keck School of Medicine, Amerika Serikat, melibatkan 83 partisipan yang terdiri dari pengguna vape, perokok aktif, dan kelompok non-perokok. Para peneliti menganalisis aktivitas gen melalui sampel sel yang diambil dari bagian dalam pipi menggunakan teknologi RNA sequencing.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 67 persen perubahan aktivitas gen lebih banyak dipengaruhi oleh rasa vape dan jenis perangkat yang digunakan dibandingkan frekuensi pemakaian.

Menariknya, vape rasa buah seperti mangga dan semangka dikaitkan dengan sekitar 31 persen perubahan gen yang ditemukan dalam penelitian tersebut. Sementara penggunaan beberapa rasa sekaligus atau mixed flavor berhubungan dengan lebih dari 64 persen perubahan aktivitas gen.

Penulis senior penelitian, Ahmad Besaratinia, mengatakan masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui faktor utama yang menyebabkan perubahan biologis tersebut.

"Satu pertanyaan besar masih tersisa, apa yang sebenarnya mendorong perubahan ini?" ujarnya.


Selain rasa, perangkat vape isi ulang (mods) juga ditemukan memiliki dampak yang lebih kuat terhadap perubahan regulasi gen dibanding jenis perangkat lainnya.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hasil studi ini belum membuktikan vape secara langsung menyebabkan penyakit tertentu. Namun perubahan aktivitas gen yang ditemukan memiliki keterkaitan dengan jalur biologis yang sebelumnya dikaitkan dengan penyakit kanker, gangguan endokrin, penyakit saluran pencernaan, hingga gangguan neurologis.

Temuan ini menambah daftar panjang perdebatan mengenai keamanan rokok elektronik. Di satu sisi, vape masih dianggap memiliki risiko lebih rendah dibanding rokok konvensional dan kerap digunakan sebagai alat bantu berhenti merokok. Namun di sisi lain, penelitian terbaru menunjukkan bahwa produk tersebut tetap menyimpan potensi risiko kesehatan yang belum sepenuhnya dipahami.

Bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang menganggap vape rasa buah sebagai alternatif yang lebih aman, penelitian ini menjadi pengingat bahwa aroma manis dan rasa segar belum tentu berarti bebas risiko bagi tubuh. Terlebih ketika dampaknya ternyata bisa terjadi hingga pada tingkat genetik.

Digigit Kucing, Berujung Maut? Kasus Suspek Rabies di Bali Jadi Alarm Serius

narasiNTB, Bali – Banyak orang menganggap gigitan atau cakaran kucing sebagai hal biasa. Namun, kasus yang terjadi di Bali ini menjadi pengingat bahwa satu luka kecil bisa berujung pada konsekuensi yang sangat besar jika diabaikan.

Seorang perempuan berinisial NKS (38), warga Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, meninggal dunia setelah didiagnosis sebagai suspek rabies. Sebelum meninggal, korban sempat menjalani perawatan di RSU Negara dengan gejala yang mengarah kuat pada infeksi rabies.

Menurut keterangan tim medis, korban datang ke IGD dengan kondisi mengalami takut air (hidrofobia), sensitif terhadap hembusan angin (aerofobia), serta sesak napas. Gejala-gejala tersebut merupakan tanda khas yang sering ditemukan pada penderita rabies stadium lanjut.

Yang mengejutkan, berdasarkan keterangan keluarga, korban diketahui pernah digigit kucing sekitar satu bulan sebelumnya, namun luka tersebut tidak mendapatkan penanganan medis dan korban tidak menerima vaksin antirabies.

Meski telah mendapat perawatan intensif, kondisi korban terus memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.

Kucing Juga Bisa Menularkan Rabies

Banyak masyarakat lebih waspada terhadap anjing dibanding kucing. Padahal, menurut Dosen Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Dr. drh. Slamet Raharjo, kucing juga termasuk Hewan Pembawa Rabies (HPR) yang dapat menularkan virus kepada manusia maupun hewan lain.

"Kucing memang cenderung menunjukkan gejala yang lebih tenang dibandingkan anjing. Namun, tetap bisa menjadi sumber penularan rabies melalui gigitan, cakaran, maupun air liur," jelasnya.

Kenali Tanda-Tanda Kucing yang Diduga Terinfeksi Rabies

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:

▪ Gelisah dan tidak tenang
▪ Perubahan perilaku menjadi agresif
▪ Sering menggigit benda di sekitarnya
▪ Tampak lebih haus dari biasanya
▪ Sering bersembunyi atau menyendiri
▪ Lemas dan kehilangan nafsu aktivitas
▪ Sensitif terhadap cahaya
▪ Takut air (hidrofobia)
▪ Tidak mengenali pemiliknya
▪ Gangguan saraf
▪ Rahang terkunci (lock jaw)
▪ Sulit berdiri atau berjalan

Jangan Tunggu Gejala Muncul

Yang perlu diketahui, rabies merupakan salah satu penyakit dengan tingkat kematian hampir 100 persen setelah gejala klinis muncul.

Karena itu, siapa pun yang tergigit atau dicakar hewan yang dicurigai membawa rabies harus segera:

✅ Mencuci luka menggunakan sabun dan air mengalir selama minimal 15 menit.
✅ Segera mendatangi fasilitas kesehatan.
✅ Mendapatkan vaksin anti rabies (VAR) atau serum anti rabies (SAR) sesuai indikasi medis.

Alarm yang Tidak Boleh Diabaikan

Kasus ini menjadi pengingat bahwa rabies bukan hanya ancaman dari anjing liar. Kucing yang tampak jinak sekalipun bisa menjadi sumber penularan apabila terinfeksi.

Satu gigitan mungkin terlihat sepele hari ini. Namun ketika gejala rabies muncul, sering kali semuanya sudah terlambat.

Karena dalam kasus rabies, yang paling berbahaya bukanlah luka gigitan itu sendiri, melainkan rasa aman palsu yang membuat banyak orang memilih untuk tidak memeriksakan diri.

Pria 28 Tahun Ini Tak Menyangka Gagal Ginjal Stadium Akhir, Gejala Awalnya Dianggap Sepele

narasiNTB, Preston – Banyak orang mengira gagal ginjal hanya mengintai mereka yang berusia lanjut atau memiliki riwayat penyakit berat. Namun kisah Niven Hopkins menjadi pengingat bahwa penyakit ini bisa menyerang siapa saja, bahkan anak muda yang terlihat sehat dan aktif.

Pria berusia 28 tahun asal Preston, Inggris, itu kini harus menjalani cuci darah selama sembilan jam setiap malam setelah didiagnosis mengalami gagal ginjal stadium akhir. Yang mengejutkan, sebelum menerima diagnosis tersebut, Niven merasa dirinya baik-baik saja.

Semua bermula pada Juni 2024 ketika ia merasakan nyeri hebat di bagian kaki. Awalnya, ia mengira hanya mengalami cedera biasa atau patah tulang jari kaki. Namun kondisi tersebut justru menjadi pintu masuk terungkapnya masalah kesehatan yang jauh lebih serius.

Setelah menjalani pemeriksaan darah, Niven menerima telepon dari rumah sakit pada pukul 04.00 dini hari yang memintanya segera datang karena hasil tes menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.

"Aku tidak merasa sakit, selain kakiku, aku merasa baik-baik saja," ungkap Niven, dikutip dari Newsweek.

Serangkaian pemeriksaan lanjutan, termasuk biopsi dan tes genetik, akhirnya mengungkap fakta bahwa ia mengidap penyakit ginjal kronis yang dipicu oleh kelainan genetik langka. Riwayat penyakit tersebut ternyata juga pernah dialami ibunya yang harus menjalani transplantasi ginjal sebanyak dua kali.

Kini, dua tahun setelah diagnosis pertama, fungsi ginjal Niven tersisa sekitar 9 persen. Kondisinya telah berkembang menjadi gagal ginjal stadium 5 atau stadium akhir, sehingga ia harus bergantung pada mesin dialisis setiap hari sambil menunggu peluang mendapatkan donor ginjal yang cocok.

Gejala yang Diabaikan

Yang membuat kisah ini semakin menyentuh adalah fakta bahwa tubuh Niven sebenarnya telah memberikan sejumlah tanda peringatan jauh sebelum diagnosis ditegakkan. Sayangnya, ia menganggap gejala-gejala tersebut sebagai hal biasa.

Beberapa gejala yang sempat ia abaikan antara lain:

• Kelelahan berlebihan meski tidak melakukan aktivitas berat.

• Urine berbusa yang muncul secara berulang.

• Nyeri punggung yang dianggap sebagai cedera otot akibat olahraga.

• Sulit berkonsentrasi atau mengalami brain fog.

Menurut Niven, masing-masing gejala terlihat sepele jika berdiri sendiri. Namun jika dilihat secara keseluruhan, semuanya merupakan sinyal bahwa tubuh sedang mengalami masalah serius.

"Secara terpisah semua gejala itu tampak kecil. Namun bersama-sama, mereka menceritakan kisah yang lebih besar," ujarnya.

Penyakit Ginjal Sering Datang Diam-Diam

Berdasarkan data National Health Service (NHS) Inggris, penyakit ginjal kronis sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Banyak kasus baru terdeteksi setelah pasien menjalani pemeriksaan darah atau urine untuk keperluan medis lainnya.

Adapun gejala yang perlu diwaspadai meliputi:

- Kelelahan berkepanjangan.
- Pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau tangan.
- Sesak napas.
- Mual dan muntah.
- Penurunan konsentrasi.
- Darah dalam urine.
- Perubahan pola buang air kecil.

Kisah Niven menjadi pengingat bahwa merasa sehat bukan berarti bebas dari penyakit. Pemeriksaan kesehatan rutin dan kepekaan terhadap perubahan kecil pada tubuh dapat menjadi langkah penting untuk mendeteksi penyakit lebih dini sebelum terlambat.

Tunggakan BPJS Kesehatan Capai Rp26,4 Triliun, Pemerintah Siapkan Skema Penghapusan Piutang

narasiNTB, Jakarta – Pemerintah tengah menyiapkan kebijakan besar terkait tunggakan iuran BPJS Kesehatan yang nilainya mencapai Rp26,47 triliun. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan regulasi mengenai penghapusan piutang tersebut saat ini tinggal menunggu penandatanganan setelah melalui proses harmonisasi.

Pernyataan itu disampaikan Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Menurut Budi, hingga tahun 2026 jumlah peserta BPJS Kesehatan yang berstatus tidak aktif mencapai sekitar 63 juta orang. Angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berada di kisaran 49 juta peserta.

Namun, tidak semua peserta nonaktif disebabkan oleh tunggakan iuran. Sebagian di antaranya terjadi karena perubahan status kepesertaan atau mutasi dari satu segmen ke segmen lainnya.

Meski demikian, persoalan tunggakan masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi BPJS Kesehatan. Dari total piutang yang tercatat mencapai Rp26,47 triliun, sebagian besar berasal dari peserta mandiri atau Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU).

"Kalau dilihat dari nilai rupiahnya, tunggakan terbesar justru berasal dari peserta mandiri dengan nilai mencapai Rp22,2 triliun," ujar Budi.

Sementara itu, dari sisi jumlah peserta, tunggakan terbanyak berasal dari kelompok Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang mencapai sekitar 6,9 juta peserta.

Antara Keringanan dan Pertanyaan Besar

Rencana penghapusan piutang BPJS Kesehatan ini diperkirakan akan menjadi kabar baik bagi jutaan peserta yang selama bertahun-tahun menunggak iuran.

Namun di sisi lain, kebijakan tersebut juga berpotensi memunculkan pertanyaan publik mengenai keadilan bagi peserta yang selama ini membayar iuran secara rutin setiap bulan.

Di tengah kondisi keuangan BPJS yang masih membutuhkan dukungan keberlanjutan, pemerintah dituntut memastikan bahwa kebijakan penghapusan piutang dilakukan secara transparan, tepat sasaran, dan tidak menimbulkan moral hazard di kemudian hari.

Tinggal Menunggu Tanda Tangan

Budi memastikan proses penyusunan regulasi telah selesai dan saat ini berada di Kementerian Sekretariat Negara untuk tahap akhir.

"Sudah selesai harmonisasi, sekarang tinggal ditandatangani," katanya.

Jika regulasi tersebut resmi diterbitkan, maka jutaan peserta yang selama ini terkendala tunggakan berpotensi mendapatkan jalan keluar untuk kembali mengakses layanan kesehatan tanpa dibebani utang iuran masa lalu.

Kendati demikian, pemerintah belum menjelaskan secara rinci siapa saja yang akan memperoleh penghapusan tunggakan serta mekanisme pelaksanaannya di lapangan.

Tunggakan BPJS Kesehatan Bisa Dicicil, Begini Cara dan Syaratnya

narasiNTB, Jakarta – Kabar baik bagi peserta BPJS Kesehatan yang memiliki tunggakan iuran. Kini peserta tidak lagi harus melunasi seluruh tunggakan sekaligus karena BPJS Kesehatan menyediakan program pembayaran bertahap melalui Program New REHAB 2.0 (Rencana Pembayaran Bertahap).

Program ini memberikan kesempatan kepada peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk mencicil tunggakan sesuai kemampuan finansial masing-masing, sehingga kepesertaan tetap dapat dipulihkan tanpa harus terbebani pembayaran sekaligus.

Siapa yang Bisa Mengikuti Program Ini?

BPJS Kesehatan menetapkan beberapa kategori peserta yang berhak mengikuti Program New REHAB 2.0.

Pertama, peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau peserta mandiri yang memiliki tunggakan lebih dari tiga bulan. Kelompok ini dapat mengajukan cicilan dengan jangka waktu maksimal 12 bulan.

Kedua, peserta yang sebelumnya terdaftar sebagai peserta mandiri namun kemudian beralih segmen menjadi Pekerja Penerima Upah (PPU), Penerima Bantuan Iuran (PBI), maupun PBPU yang dibiayai pemerintah daerah. Jika masih memiliki tunggakan lebih dari dua bulan saat berstatus peserta mandiri, mereka dapat mencicil tunggakan hingga maksimal 36 bulan.

Cara Daftar Cicilan BPJS Kesehatan

Pendaftaran Program New REHAB 2.0 dapat dilakukan secara online melalui aplikasi Mobile JKN.

Langkah-langkahnya sebagai berikut:

1. Buka aplikasi Mobile JKN.
2. Pilih menu New REHAB (Cicilan).
3. Sistem akan menampilkan jumlah tunggakan yang dimiliki peserta.
4. Baca dan setujui formulir persetujuan.
5. Pilih jangka waktu cicilan yang diinginkan.
6. Sistem akan menampilkan simulasi besaran cicilan per bulan.
7. Konfirmasi persetujuan dan masukkan PIN Mobile JKN.

Setelah proses selesai, peserta resmi terdaftar dalam program cicilan dan dapat mulai melakukan pembayaran sesuai skema yang dipilih.

Iuran BPJS Kesehatan Belum Naik

Di tengah berbagai informasi yang beredar di media sosial, BPJS Kesehatan juga menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kenaikan iuran JKN.

Besaran iuran peserta mandiri masih tetap sebagai berikut:

- Kelas I: Rp150.000 per bulan
- Kelas II: Rp100.000 per bulan
- Kelas III: Rp35.000 per bulan setelah subsidi pemerintah

Solusi bagi Peserta yang Menunggak

Program New REHAB 2.0 menjadi solusi bagi peserta yang mengalami kesulitan ekonomi namun tetap ingin mempertahankan akses layanan kesehatan melalui BPJS Kesehatan.

Dengan skema cicilan ini, peserta tidak perlu lagi menunggu memiliki dana besar untuk melunasi tunggakan sekaligus. Cukup mendaftar melalui Mobile JKN dan memilih skema pembayaran yang sesuai kemampuan.

Langkah ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kepatuhan peserta sekaligus memastikan masyarakat tetap mendapatkan perlindungan kesehatan yang berkelanjutan.

Aturan Baru BPJS Kesehatan Berlaku Mulai Juni 2026, Pasien Tak Bisa Lagi Kontrol Lebih Awal dari Jadwal

narasiNTB, Jakarta – Kabar penting bagi peserta BPJS Kesehatan. Mulai 1 Juni 2026, pasien yang menjalani kontrol rutin tidak lagi bisa datang lebih cepat dari tanggal yang tercantum dalam surat kontrol.

Kebijakan baru ini resmi diberlakukan BPJS Kesehatan sebagai upaya menata sistem pelayanan agar lebih tertib, terjadwal, dan mengurangi penumpukan pasien di fasilitas kesehatan.

Berdasarkan informasi yang disampaikan melalui Portal Informasi Indonesia, peserta yang datang sebelum tanggal kontrol yang telah ditentukan tidak akan mendapatkan pelayanan kontrol dan diminta kembali sesuai jadwal yang tertera.

Aturan ini berlaku bagi seluruh peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menjalani kontrol lanjutan di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan rujukan lainnya.

Datang Terlambat Masih Bisa Dilayani

Meski tidak diperbolehkan datang lebih awal, BPJS Kesehatan masih memberikan kelonggaran bagi peserta yang terlambat menjalani kontrol.

Namun ada syarat yang harus dipenuhi, yakni melakukan reservasi atau pendaftaran secara online paling lambat satu hari sebelum kedatangan (H-1).

Dengan sistem tersebut, BPJS berharap antrean pasien dapat lebih terukur dan pelayanan kesehatan berjalan lebih efektif.

Pasien Gawat Darurat Tetap Jadi Prioritas

Khusus bagi pasien dalam kondisi gawat darurat, aturan jadwal kontrol tidak berlaku.

Peserta tetap dapat langsung menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk mendapatkan penanganan medis tanpa harus menunggu jadwal kontrol yang telah ditentukan.

Isu Kenaikan Iuran Dipastikan Hoaks

Di tengah perubahan aturan layanan tersebut, BPJS Kesehatan juga menepis isu yang sempat ramai beredar di media sosial terkait kenaikan iuran peserta.

Hingga saat ini, besaran iuran JKN masih tetap dan belum mengalami perubahan.

Berikut rincian iuran BPJS Kesehatan yang masih berlaku:

1. Kelas I: Rp150.000 per bulan
2. Kelas II: Rp100.000 per bulan
3. Kelas III: Rp35.000 per bulan (setelah subsidi pemerintah sebesar Rp7.000)


Jangan Abaikan Skrining Kesehatan

BPJS Kesehatan juga kembali mengingatkan peserta untuk melakukan skrining riwayat kesehatan.

Mulai 6 Maret 2026, peserta JKN yang belum melakukan skrining kesehatan diwajibkan mengisinya terlebih dahulu sebelum mendapatkan layanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

Skrining dapat dilakukan melalui:

1. Aplikasi Mobile JKN
2. WhatsApp Pandawa 0811-8165-165
3. Care Center 165
4. Website resmi BPJS Kesehatan
5. Datang langsung ke FKTP tempat peserta terdaftar


Jangan Sampai Ditolak Saat Kontrol

Dengan berlakunya aturan baru ini, peserta BPJS Kesehatan diimbau lebih teliti memperhatikan tanggal kontrol yang tercantum pada surat rujukan atau surat kontrol.

Datang terlalu cepat kini berisiko tidak dilayani, sementara datang terlambat harus disertai reservasi terlebih dahulu.

Bagi jutaan peserta JKN, perubahan ini menjadi penyesuaian penting agar tidak mengalami kendala saat mengakses layanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.