Vape Rasa Buah Tak Seaman yang Dibayangkan? Studi Temukan Perubahan pada Ribuan Gen
narasiNTB, JAKARTA – Vape rasa buah yang selama ini populer di kalangan anak muda kembali menjadi sorotan. Sebuah penelitian terbaru mengungkap temuan yang mengundang perhatian dunia kesehatan, yakni adanya perubahan aktivitas ribuan gen pada pengguna rokok elektronik, terutama mereka yang menggunakan vape berperisa buah.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Frontiers in Oncology menemukan bahwa pengguna vape mengalami perubahan aktivitas pada 3.124 gen dibandingkan kelompok yang tidak merokok maupun tidak menggunakan vape. Temuan ini menjadi perhatian karena sejumlah perubahan gen tersebut diketahui berkaitan dengan berbagai jalur biologis yang berhubungan dengan penyakit kronis.
Penelitian yang dilakukan tim dari Keck School of Medicine, Amerika Serikat, melibatkan 83 partisipan yang terdiri dari pengguna vape, perokok aktif, dan kelompok non-perokok. Para peneliti menganalisis aktivitas gen melalui sampel sel yang diambil dari bagian dalam pipi menggunakan teknologi RNA sequencing.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 67 persen perubahan aktivitas gen lebih banyak dipengaruhi oleh rasa vape dan jenis perangkat yang digunakan dibandingkan frekuensi pemakaian.
Menariknya, vape rasa buah seperti mangga dan semangka dikaitkan dengan sekitar 31 persen perubahan gen yang ditemukan dalam penelitian tersebut. Sementara penggunaan beberapa rasa sekaligus atau mixed flavor berhubungan dengan lebih dari 64 persen perubahan aktivitas gen.
Penulis senior penelitian, Ahmad Besaratinia, mengatakan masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui faktor utama yang menyebabkan perubahan biologis tersebut.
"Satu pertanyaan besar masih tersisa, apa yang sebenarnya mendorong perubahan ini?" ujarnya.
Selain rasa, perangkat vape isi ulang (mods) juga ditemukan memiliki dampak yang lebih kuat terhadap perubahan regulasi gen dibanding jenis perangkat lainnya.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hasil studi ini belum membuktikan vape secara langsung menyebabkan penyakit tertentu. Namun perubahan aktivitas gen yang ditemukan memiliki keterkaitan dengan jalur biologis yang sebelumnya dikaitkan dengan penyakit kanker, gangguan endokrin, penyakit saluran pencernaan, hingga gangguan neurologis.
Temuan ini menambah daftar panjang perdebatan mengenai keamanan rokok elektronik. Di satu sisi, vape masih dianggap memiliki risiko lebih rendah dibanding rokok konvensional dan kerap digunakan sebagai alat bantu berhenti merokok. Namun di sisi lain, penelitian terbaru menunjukkan bahwa produk tersebut tetap menyimpan potensi risiko kesehatan yang belum sepenuhnya dipahami.
Bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang menganggap vape rasa buah sebagai alternatif yang lebih aman, penelitian ini menjadi pengingat bahwa aroma manis dan rasa segar belum tentu berarti bebas risiko bagi tubuh. Terlebih ketika dampaknya ternyata bisa terjadi hingga pada tingkat genetik.
Comments
Post a Comment