Berita Terbaru

Hasil Berita

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pemerintah Bilang Terus Evaluasi: Publik Menunggu Aksi, Bukan Sekadar Evaluasi

narasiNTB, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mencatat sejarah yang tidak ingin dikenang. Untuk pertama kalinya, mata uang Indonesia menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), menjadikannya salah satu titik terlemah sepanjang sejarah.

Di tengah kekhawatiran pelaku usaha dan masyarakat, pemerintah memastikan Presiden Prabowo Subianto terus melakukan evaluasi terhadap kondisi ekonomi yang berkembang.

"Presiden evaluasi terus. Pasti Presiden evaluasi terus," kata Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari, Jumat (5/6/2026).

Namun saat ditanya langkah konkret apa yang akan diambil pemerintah untuk meredam tekanan terhadap rupiah, Qodari memilih menyerahkan penjelasan kepada Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia.

Rupiah Terpuruk, Publik Mulai Bertanya

Berdasarkan data pasar, rupiah sempat menyentuh level Rp18.015 per dolar AS dan bahkan menembus Rp18.022 per dolar AS pada perdagangan Kamis malam.

Angka tersebut bukan sekadar statistik ekonomi. Bagi masyarakat, pelemahan rupiah berpotensi berdampak langsung pada harga barang impor, biaya produksi, inflasi, hingga daya beli.

Di tengah kondisi tersebut, publik mulai mempertanyakan apakah pelemahan rupiah ini semata-mata dipengaruhi faktor global, atau ada persoalan domestik yang belum terselesaikan.

Sebab dalam setiap krisis nilai tukar, yang paling merasakan dampaknya bukan para pejabat di ruang rapat, melainkan masyarakat yang harus menghadapi kenaikan harga kebutuhan hidup.

Evaluasi Saja Tidak Cukup

Pernyataan bahwa pemerintah terus melakukan evaluasi sebenarnya bukan hal baru. Hampir setiap kali muncul gejolak ekonomi, kata "evaluasi" selalu menjadi respons pertama yang disampaikan kepada publik.

Namun persoalannya, pasar tidak bergerak karena kata-kata. Pasar bergerak karena kepercayaan.

Ketika rupiah terus melemah, investor dan pelaku usaha tentu ingin melihat langkah nyata yang mampu memberikan kepastian, bukan sekadar pernyataan normatif bahwa situasi sedang dievaluasi.

Karena itu, muncul pertanyaan yang mulai ramai diperbincangkan: apakah pemerintah masih menganggap pelemahan rupiah ini sebagai gejala sementara, atau justru sinyal bahwa ada masalah yang lebih serius?

Isu Reshuffle Mulai Menguat

Menariknya, di tengah pelemahan rupiah, isu perombakan kabinet kembali mengemuka.

Saat ditanya soal kemungkinan reshuffle, Qodari tidak membantah ataupun mengonfirmasi.

"Itu hak prerogatif Presiden," ujarnya singkat.

Pernyataan tersebut memicu berbagai spekulasi politik. Tidak sedikit yang menilai kondisi ekonomi saat ini akan menjadi salah satu indikator penting dalam evaluasi kinerja para menteri ekonomi.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada sinyal resmi dari Istana terkait kemungkinan pergantian menteri.

Alarm yang Tidak Boleh Diabaikan

Melemahnya rupiah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS bukan sekadar persoalan kurs semata.

Bagi sebagian ekonom, kondisi ini merupakan alarm yang harus ditanggapi secara serius karena menyangkut stabilitas ekonomi nasional, kepercayaan pasar, dan daya tahan masyarakat menghadapi tekanan ekonomi.

Pemerintah boleh mengatakan situasi sedang dievaluasi. Namun bagi publik, pertanyaan yang lebih penting adalah kapan hasil evaluasi itu diterjemahkan menjadi kebijakan yang benar-benar mampu mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah.

Karena dalam ekonomi, kepercayaan bisa dibangun bertahun-tahun. Tetapi bisa hilang hanya dalam hitungan hari.

Comments